Partner Surga vs Kamar Mandi

"Aku nunggu di kamar mandi 1, kamu di mana?"
"Aku mah nunggu yang cepet."
Ah, wanita. Makhluk penunggu itu selalu saja menunjukkan bahwa ia memanglah penunggu sebuah kepastian.
Lihatlah. Ada pengungkapan jati diri walau dalam sepenggal kalimat sepele yang dirasakan tanpa arti.
Mengapa? Karena wanita selalu membawa perasaannya dalam setiap kesempatan.
Wanita menunggu, lalu berhak memutuskan. Eits, pembicaraan kita sekarang bukan lagi soal memilih kamar mandi ya .... Ini lebih mengarah pada hal lain yang biasanya membuat kita baper. Yaps, ini tentang partner surga.
Mengapa dikaitkan dengan kamar mandi? Jawabannya adalah karena kamar mandi memiliki setidaknya satu ciri yang sama dengan partner surga.
Loh kok? Iya, mereka sama-sama ditunggu. 😁
Saat kita melihat beberapa kamar mandi yang tertututp, secara spontan, kita akan memilih kamar mandi yang paling dekat, atau memilih kamar mandi tak berpenunggu, atau memilih kamar mandi yang bagus walaupun jauh.
Semua itu pilihan, ada saja alasan untuk melakukannya.
Ketika itu, kita dihadapkan pada keadaan yang menuntut kesabaran, ketepatan memilih, dan tentu, pengorbanan waktu yang harus dipertanggungjawabkan.
Kita cenderung memilih yang dekat dan cepat. Pasti itu. Waktu kita terbatas. Jika hanya menunggu apa yang kita inginkan, sia-sialah waktu.
Karenanya, kita tidak seharusnya menunggu yang tak berkomitmen. Tak perlu menanti yang hanya memberi janji. Terlebih yang tak pernah berniat  mengeksekusi.
Bumi ini berputar. Waktu tak akan menunggu. Masa tak akan membiarkan kita tetap muda.
Ada kalanya kita harus mengambil keputusan. Sama halnya dengan meninggalkan kamar mandi yang tengah kita tunggu untuk masuk pada kamar mandi lain yang kosong.
Tentu saja kita tak sembarang masuk. Periksa dulu kelayakannya. Pastikan kebersihannya, juga pintunya.
Tak logis jika kita memilih kamar mandi yang tak ada saluran air di dalamnya, atau jika kebersihannya tak terjaga. Terlebih, jika penutupnya tak tersedia. Tak perlu dipertahankan. Tak perlu dipilih.
Tinggalkan, tunggu yang layak. Jangan baper. Rasio kita, perlu dimanfaatkan.
Ngerti?
Bukan kamar mandi lagi pembahasannya. Ini tentang dia yang akan menjadi partner surgamu.
Jika kita menaruh harap pada seseorang, wajar jika kita menunggunya. Namun jika tenggat tunggu itu terlalu lama, bahkan hingga menghanguskan masa muda, tak perlulah kita terus menanti harap yang tak pasti. Buka hati, sadari celah kecil untuk orang lain mengeksekusi.
Tinggalkan. Tunggu yang layak menghampiri.
Atau jika yang ditunggu ingin mengakhiri masamu menanti, pastikan dulu ia layak menjadi imam, pastikan akhlaknya membuatmu bahagia, pastikan jarak surga mendekat ketika ia bersamamu.
Jangan baper. Hidupmu butuh rasio.

Cirebon, 09 Desember 2016

Komentar