Masih segar dalam ingatanku ketika wajahnya bertemu dengan takdir yang kujalani. Teduh. Beku.
Dan di deretan detik selanjutnya, aku resmi mengalami jatuh cinta.
Diam. Aku masih diam menanggapi pilinan takdir yang perlahan terlepas untuk kemudian menggores cerita dalam wilayahku. Bingung. Bimbang. Tak tahu arah. Entah. Aku hanya bisa diam. Diam selama mungkin. Diam. Seperti halnya batu yang tak berhati. Diam. Seperti karang yang tak tergoyahkan
Di putaran waktu yang sama. Hatiku sempurna berkeping. Hancur. Kesakitan. Terjepit oleh rindu yang menghantam. Rindu yang memeluk dengan balut duri. Rindu yang halus bagai jilatan api. Dan aku? Entah bagaimana menggambarkannya.
Aku tak baik. Sangat tak baik. Mabuk cinta? Entahlah. Gila? Tak separah itu.
Dalam duniaku saat itu hanya ada kepasrahan menyerahkan hatiku direnggut. Merelakan hatiku terpenjara. Terikat. Terbungkam. Diam. Hanya lagu bisu yang kumainkan untuk segumpal darah di perut bagian kananku. Terkhusus untuknya. Untuk hatiku. Lagu bisu itu untuk hatiku.
Untuk mengurangi kesakitan. Untuk membuatnya tak merasakan penjara.
Dia? Dia ada.
Responnya? Dia tak terlampau berani mengungkap hati. Terlebih dengan diamku yang sempurna. Terlebih sejak kami tersadar dengan asa dan rasa yang sama.
Bodoh? Kami tak bodoh!
Dia merindu. Aku bisa merasakan kerinduannya yang teramat. Air mata itu telah cukup menjelaskan seberkas rasa di hatinya. Aku tahu ia sama persis sepertiku. Tersakiti dalam hati. Terluka oleh cinta.
Komentar
Posting Komentar